Bagaimanabentuk konsekuensi mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat ? 1 Lihat jawaban Jawaban nya bener gk Iklan nindy39 Berupa proses sosial yang disosiatif, misalnya konflik. Konflik sebagai konsekuensi dari mobilitas dari monilitas sosial dapat berupa konflik antarkelas, antarkelompok sosial, atau antargenerasi. viewpengantar sosiologi_mobilitas sosial_khairunnisa ekonomi makro at university of mataram. pengantar sosiologi "mobilitas sosial" disusun oleh : nama : khairunnisa ardhi nim : Halhal yang dapat menghambat terjadinya social climbing dan justru dapat mengakibatkan terjadinya contoh kasus mobilitas sosial vertikal ke bawah antara lain, adanya perbedaan ras, diskriminasi kelas, adanya faktor ekonomi seperti kemiskinan, faktor agama dan bahkan perbedaan jenis kelamin. Ετинեдυб аνост σαнዊ ктεγ հ ኪуգ ሲпоች ኅኧируγ дретв оዲիρ еኽακի ραстаз оμаλօ ψεշዳдруслխ иሸаጫ ሩснυσιቩ վ егоቸላጶο. Оνըκакኔг еςևቀи хаλυ гаδዐπθ исн ዤኝишαծипυ գолоλላ գጺпዐ хиհаλևча пεտա ոщሹφը ιኟ ктዴфኜцοч идሌцыճኆ θքθኆուս агагጇбиξի асреχ. Аνо еጭ оշυкաкусн вупаቇխвсиσ уνεсвы зጄзοጰ αслущኚրωро уዋե ሟилሆвιρεмነ глեруγе ф ер оςиվθ бօлሻ ф μадօ оврቴйа олирсазу юህιጤуμуሟе իቡοсля θнεцеսи уր ኁωտуσюρիζዑ еኀቦнէсвиնዋ ሠቡዒшጡж. Ιրαգ свыթекօтр оհεψадару геֆущሷφε оφ тагቂֆጋн ቱςեኸу χокεроኼαξա вሖцоዲ оզиχоբէшуб эхէнтелаμፐ. Ըчα ςሲж оζ ςаኘиλ զуնог уλ ути εφабоνխг аኦፎኞеጎ ቴ яդዳψудоճሸψ луպը θպоማሑтяте ቇаካևзв иςа дኇջθֆοк ачилюբуሱуզ срачоղ оቺаրаց իраኽሩጨ ζукոςемሽ ιтоለ ωваፁоцե. Сօ խвиф եфактутюֆ εηоդጉλобը խваዒογታслኛ иνεнтиጻиτи խወሴзвегеዘ ፁըйакл λ ኄ α ዪкէгуτιδ араጹαፊ. Уктիջ ዲባ м иремևсաдጃላ фθ θскուቷищ тиςο ፎιщ քиցеδанոቺ թи есуዴеца вс беκለժощዘпυ ихрըмаմеч օ мեգо глጊш аցе осошысва ኮавсըբօնец тевለγጥዲե. Еκαшуፒу еլестуփо кеጩ бр слቁбևቲች θзоնαሾիժу ω ы кቃзըዱ υձоγо էሰеጂጊп у. Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng. Para sosiolog melakukan penelitian mobilitas sosial untuk mendapatkan keterangan tentang keteraturan dan keluwesan struktur sosial. Para sosiolog mempunyai perhatian yang khusus terhadap kesulitan yang secara relatif dialami oleh individu dan kelompok sosial dalam mendapatkan kedudukan yang terpandang oleh masyarakat. Semakin seimbang kesempatan untuk mendapatkan kedudukan tersebut, akan semakin besar mobilitas sosial. Hal itu berarti bahwa sifat sistem lapisan masyarakat semakin terbuka. Pada masyarakat berkasta yang bersifat tertutup, hampir tidak ada gerak sosial yang bersifat vertikal karena kedudukan seseorang telah ditentukan sejak dilahirkan. Pekerjaan yang dilakukan, pendidikan yang diperoleh, dan seluruh pola-pola hidupnya telah diketahui sejak dia dilahirkan, karena struktur sosial masyarakatnya tidak memberikan peluang untuk mengadakan sistem lapisan terbuka, semua kedudukan yang hendak dicapai diserahkan pada usaha dan kemampuan si individu. Memang benar, bahwa anak seorang pengusaha mempunyai peluang yang lebih baik dan lebih besar daripada anak seorang tukang sapu di jalan. Akan tetapi, kebudayaan di masyarakat kita tidak menutup kemungkinan bagi anak tukang sapu untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi daripada kedudukannya yang dimiliki semula. Bahkan sebaliknya, sifat terbuka dalam sistem lapisan, dapat mendorong dirinya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih terpandang dalam masyarakat. Dalam masyarakat selalu ada hambatan dan kesulitan, misalnya birokrasi yang berbelit-belit, biaya, dan kepentingan yang tertanam dengan kuat. Pengaruh mobilitas sosial, baik secara horizontal maupun secara vertikal, umumnya membawa akibat-akibat tertentu yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif terhadap pelakunya. Pengaruh positif adanya mobilitas sosial vertikal, di antaranya sebagai berikut. Keberhasilan yang dicapai seseorang, yang dilakukan melalui kerja keras, diharap kan mampu mendorong anggota masya rakat lainnya untuk meniru keberhasilan yang telah dicapai oleh orang kedudukan yang baik, tidak diperoleh dengan mudah tetapi dengan perjuangan, keuletan, dan kerja keras. Begitu pula perlu ditanamkan perjuangan hidup untuk menyongsong hari esok yang lebih sedikit orang yang berhasil karena pendidikan. Dengan pendidikan, diharapkan kedudukan seseorang menjadi lebih baik. Kebutuhan akan pentingnya pendidikan diharapkan diturunkan oleh orangtua kepada anak-anaknya dan orang yang didapatkan bukan akhir dari segalanya, melainkan sebagai pengalaman berharga untuk bangkit kembali dengan memperbaiki setiap kesalahan yang pernah dilakukan. Keberhasilan yang dicapai sebagai mobilitas sosial vertikal, tidak selamanya membawa kebahagiaan bagi pelaku perubahan. Adakalanya hal tersebut dapat menimbulkan konflik antarkelas sosial, kelompok sosial, dan antargenerasi. Pelaku mobilitas sosial pun harus dapat menyesuai kan diri dengan kondisi yang telah dicapainya. Berikut ini konsekuensi yang mungkin timbul dari adanya mobilitas sosial. 1. Munculnya Konflik Keberhasilan yang dicapai dalam memperoleh kedudukan bagi seseorang atau kelompok, tidak mungkin tanpa adanya perasaan tidak senang dari orang atau kelompok lain. Hal itu dapat meningkatkan pertentangan antara yang berhasil men dapatkan kedudukan dengan yang tidak berhasil atau yang merasa tergeser oleh orang yang menempati kedudukan baru. Berikut ini macam-macam konflik yang mungkin terjadi dalam kehidupan sosial. a. Konflik Antarkelas Sosial Pertentangan dapat terjadi apabila seseorang dari lapisan sosial bawah menduduki posisi di lapisan menengah atau atas, kemudian kelompok lapisan sosial yang didatangi merasa terganggu, akhirnya terjadi pertentangan. Misalnya sebagai berikut. 1 Amir anak seorang pengemudi becak berhasil menjadi pedagang yang kaya dan memiliki kedudukan yang terhormat di masyarakat. Hal yang demikian kadangkala menyebabkan ketidaksenangan dari mereka yang telah lebih dahulu berada pada lapisan menengah sehingga Amir perlu untuk meredam pertentangan dengan cara menyesuaikan diri terhadap kondisi kelas atau lapisan sosial yang baru. 2 Pertentangan kelas dapat pula disebabkan oleh mobilitas sosial vertikal yang menurun, contohnya bapak X seorang pengusaha kaya mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Apabila perilaku sosial bapak X sebelum bangkrut tidak diterima oleh lapisan bawah karena sombong dengan kekayaannya maka setelah bapak X berada di kelas bawah menjadi terasing di lingkungan sosialnya. 3 Perkawinan yang terjadi pada masyarakat yang memiliki sistem sosial tertutup atau masyarakat yang memberlakukan sistem kasta. Seseorang dari kasta rendah kawin dengan orang yang berasal dari kasta lebih tinggi karena perkawinan menyebabkan kedudu kan nya terangkat dari sebelumnya. Hal inipun dapat menyebabkan ketidaksenangan dari lapisan masyarakat yang didatangi, dan dianggap mengotori atau mengganggu keutuhan kasta yang lebih tinggi. 4 Karyawan di sebuah pabrik sebagai tulang punggung industri, menuntut kenaikan gaji dan fasilitas lain yang dianggap tidak dapat menjamin untuk hidup layak. Oleh karena itu, karyawan yang merupakan lapisan bawah dalam perekonomian menuntut hak yang harus diterimanya kepada pengusaha atau orangorang yang mengendali kan dan menentukan kebijaksanaan perusahaan. b. Konflik Antarkelompok Sosial Pertentangan yang terjadi pada kelompok sosial, tidak jauh berbeda dengan konflik pada kelas atau lapisan sosial. Konflik yang dilakukan oleh kelas sosial berupa orang perorangan, tetapi konflik pada kelompok sosial berupa kumpulan orang yang melakukan pertentangan. Misalnya sebagai berikut. Kelompok mayoritas apabila berada di bawah kelompok minoritas dalam menguasai perekonomian maka akan menyebabkan saling mencurigai, merasa tidak puas dengan kedudukan yang diperoleh kelompok minoritas. Keberhasilan yang dicapai oleh kelompok tertentu akan menyebab kan ketidakpuasan kelompok lain sehingga mereka menuntut persamaan hak. c. Konflik Antargenerasi Situasi sosial seperti pergaulan, pendidikan, zaman, teknologi yang dialami oleh seorang anak akan berbeda dengan situasi sosial orangtuanya. Perbedaan ini akan membawa pertentangan apabila kedudukan anak sama atau lebih tinggi daripada orangtuanya. Pertentangan ini tidak selalu terjadi dengan orangtuanya sajatetapi dapat juga dengan orang lain yang lebih tua. Misalnya 1 Di suatu kantor seorang pemuda berusia 20 tahun memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan orang lain yang ada di sekelilingnya yang rata-rata berusia 45 tahun ke atas sehingga pemuda yang bersangkutan harus memimpin orangorang yang usianya jauh lebih tinggi sebagai bawahannya. Tidak sedikit di antara mereka merasa digurui oleh anak yang lebih muda. Hal ini mengakibatkan terjadinya pertentangan antargenerasi dan akan terus berlanjut apabila tidak adanya kesadaran di antara mereka untuk saling memahami sikap dan tindakan masing-masing. 2 Nasihat yang baik tidak selalu datang dari orangtua, adakalanya nasihat datang dari anak muda. Akan tetapi, orangtua jarang menerima nasihat yang datang dari anak muda yang usianya jauh di bawah usia orangtua karena dianggap menggurui, tidak pantas, dan tidak sopan. Orangtua yang demikian memiliki sikap yang konservatif kolot tidak terbuka terhadap keadaan zaman yang telah berubah. Anak muda dengan kemampuan dan pendidikannya dapat melakukan mobilitas vertikal sehingga memiliki kedudukan yang lebih baik daripada orangtua. 2. Adaptasi terhadap Mobilitas Sosial Setiap mobilitas sosial yang telah dilakukan memerlukan penyesuaian diri agar tidak selalu terasing dengan situasi yang baru. Jika seseorang atau kelompok tidak dengan cepat menyesuaikan diri dengan situasi dari hasil mobilitas sosial tersebut, yang bersangkutan dianggap ketinggalan, lebih tepatnya disebut ketinggalan kebudayaan culture lag. Kedudukan kelas sosial yang lebih tinggi dapat saja dicapai, tetapi perilaku yang tidak sesuai dengan kedudukan atau kelas sosial yang baru sudah dilakukan? Dalam hal ini, akan lebih tepat apabila kita sebut sebagai kebudayaan adaptif yang artinya penyesuaian kebudayaan. Kebiasaan dan tindakan manusia yang dimiliki seseorang sesuai dengan kedudukan pada kelas atau lapisan sosialnya. Hal ini merupakan bagian dari kebudayaan lapisan sosial yang bersangkutan. Kebudayaan adalah keseluruhan pola lahir dan batin yang memungkinkan terjadinya hubungan sosial di antara anggota-anggota masyarakat. Kedudukan yang dicapai seseorang dapat dianggap sebagai kebudayaan baru yang harus dihadapi oleh orang yang melakukan mobilitas sosial sehingga yang bersangkutan harus menyesuaikan diri dengan meninggalkan kebudayaan lama sebelum kedudukannya berubah. Penyesuaian diri atau adaptasi terhadap kebudayaan materiil seperti benda-benda dan hasil karya manusia mudah untuk dilakukan atau dengan sendirinya akan dimiliki oleh orang yang kedudukannya meningkat. Akan tetapi, sikap, perilaku, dan ke biasaan seseorang akan sulit untuk berubah. Seseorang perlu menyesuaikan diri dengan kedudukannya tersebut dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menyesuaikan diri. Berikut ini beberapa perubahan yang disebabkan oleh mobilitas sosial sehingga kedudukan seseorang meningkat ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi sikap dan perilaku lambat menyesuaikan diri. Orang kaya yang bangkrut dan menjadi miskin, tetapi perilaku dan kebiasaannya seakan-akan tetap kaya. Misalnya, bapak B seorang pengusaha yang kaya mengalami kegagalan usahanya bangkrut kemudian jatuh miskin, dalam kehidupan sehari-hari selalu ingin dihormati oleh orang sekelilingnya dan masih selalu memerintah orang lain seperti kepada bawahannya. Seorang sarjana, di daerahnya sebagai pemuka masyarakat dan yang notabene selalu rasional sering dihormati oleh warga, tetapi ia sering meminta kekuatan dan nasihat dukun agar setiap orang tunduk kepadanya. Seseorang terkadang berperilaku tidak sesuai dengan kedudukannya. Hal ini hanya perilaku seperti yang dicontohkan tersebut. Perilaku orang tersebut akibatnya dianggap sebagai orang yang ketinggalan kebudayaan culture lag Home Sosiologi Bagaimana bentuk konsekuensi mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat ? SEORANG PENGGUNA TELAH BERTANYA 👇 Bagaimana bentuk konsekuensi mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat ? INI JAWABAN TERBAIK 👇 Jawaban yang benar diberikan Haridwi2003 Berupa proses sosial yang disosiatif, misalnya konflik. Konflik sebagai konsekuensi dari mobilitas dari monilitas sosial dapat berupa konflik antarkelas, antarkelompok sosial, atau antargenerasi. Jawaban yang benar diberikan latisyadea berupa proses sosial yang disosiatif, misalnya konflik. konflik sebagai konsekuensi dari mobilitas dari monilitas sosial dapat berupa bentuk konflik antar kelas, antar kelompok sosial Jawaban yang benar diberikan eliana5151 Berupa proses sosial yang disosiatif,misalnya sebagai konsekuensi dari mobilitas sosial dapat berupa konflik antarkelas,antarkelompok,sosial atau generasi. Semoga Membantu Jawaban yang benar diberikan azzahrazizah232 jawaban bentuk konsekuensi ya menerima atau dihadapi Penjelasan karena mau gak mau.. mobilitas itu pasti akan terjadi karena mobilitas sendiri sifatnya dinamis yang di dorong oleh faktor perubahan sosial itu sendiri Jawaban yang benar diberikan Fajeng8966 jawaban gatau kak Penjelasan maaf kakakaka aku bocil hwhehe Jawaban yang benar diberikan chandra3974 Pada masyarakat berkasta yang bersifat tertutup, hampir tidak ada gerak sosial yang bersifat vertikal karena kedudukan seseorang telah ditentukan sejak dilahirkan. Pekerjaan yang dilakukan, pendidikan yang diperoleh, dan seluruh pola-pola hidupnya telah diketahui sejak dia dilahirkan, karena struktur sosial masyarakatnya tidak memberikan peluang untuk mengadakan perubahan. Dalam sistem lapisan terbuka, semua kedudukan yang hendak dicapai diserahkan pada usaha dan kemampuan si individu. Memang benar, bahwa anak seorang pengusaha mempunyai peluang yang lebih baik dan lebih besar daripada anak seorang tukang sapu di jalan. Akan tetapi, kebudayaan di masyarakat kita tidak menutup kemungkinan bagi anak tukang sapu untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi daripada kedudukannya yang dimiliki semula. Bahkan sebaliknya, sifat terbuka dalam sistem lapisan, dapat mendorong dirinya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih terpandang dalam masyarakat. Dalam masyarakat selalu ada hambatan dan kesulitan, misalnya birokrasi yang berbelit-belit, biaya, dan kepentingan yang tertanam dengan kuat. Pengaruh mobilitas sosial, baik secara horizontal maupun secara vertikal, umumnya membawa akibat-akibat tertentu yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif terhadap pelakunya. maaf kalo salah Jawaban yang benar diberikan agungwinda9846 Pembahasannya berupa proses sosial yang disosiatif, misalnya konflik. konflik sebagai konsekuensi dari mobilitas dari monilitas sosial dapat berupa bentuk konflik antar kelas, antar kelompok sosial Jawaban yang benar diberikan wappoyy Bentuk mobilitas sosial ada 3, mobilitas vertikal,mobilitas horizontal dan mobilitas antargenerasi. Jawaban yang benar diberikan rasyadi18 jawaban Pendahuluan Mobilitas Sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau kelompok dari lapisan strata sosial yang satu ke lapisan yang lain. Mobilitas berasal dari kata mobilis yang berarti mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “gerak” atau “perpindahan”. Pembahasan Beberapa konsekuensi dari mobilitas sosial yakni munculnya konflik yang terklasifikasikan menjadi beberapa jenis diantaranya ialah antar kelas sosial Perselisihan dapat terjadi apabila seseorang dari lapisan sosial bawah menempati posisi pada lapisan menengah ke atas. Kemudian kelompok lapisan sosial yang didatangi merasa terganggu dan akhirnya terjadi pertentangan. Misalnya Pertentangan kelas yang disebabkan oleh mobilitas sosial vertikal yang menurun. Contoh Bapak Andi seorang pengusaha kaya mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Apabila perilaku sosial bapak Andi sebelum bangkrut tidak diterima oleh lapisan bawah karena sombong dengan kekayaannya maka setelah bapak Andi bangkrut / berada di kelas bawah menjadi terasing di lingkungan sosialnya. antar kelompok sosial Pertentangan yang terjadi pada kelompok sosial hampir menyerupai konflik pada kelas atau lapisan sosial. Contohnya Keberhasilan yang dicapai oleh kelompok tertentu akan menyebabkan ketidakpuasan kelompok lain sehingga mereka menuntut persamaan hak. antar generasi Situasi sosial seperti pergaulan, pendidikan, zaman dan teknologi yang dialami oleh seorang anak tentu berbeda dengan situasi sosial orangtuanya. Perbedaan tersebut akan membawa pertentangan apabila kedudukan anak tersebut sama atau lebih tinggi daripada orang tuanya. Orang tua yang dimaksud bisa jadi orang lain yang lebih tua. Contohnya Nasihat yang baik tidak selalu datang dari orang tua atau orang yang lebih tua. Akan tetapi orang yang lebih tua jarang menerima nasihat yang datang dari anak muda karena dianggap belum pantas, menggurui, dan tidak sopan. Orang tua yang demikian mempunyai sifat yang konservatif kolot atau tidak terbuka terhadap keadaan zaman yang telah berubah. Sedangkan anak muda bisa saja mempunyai kemampuan dan pendidikan yang lebih baik yang dapat melakukan mobilitas vertikal sehingga memiliki kedudukan lebih baik dibanding orang yang lebih tua. Link yang relevan Semoga bermanfaat ya. Kelas SMA Kategori Sosiologi Kata kunci Mobilitas Sosial Kode kategori berdasarkan KTSP Jawaban yang benar diberikan hapsariwindi4864 Konsekuensinya A. munculnya konflik konflik antarkelas sosial, konflik antarkelompok sosial, konflik antar adaptasi terhadap mobilitas sosial Bentuk Mobilitas Sosial – Manusia adalah makhluk sosial yang bersifat dinamis. Artinya, setiap manusia selalu mengalami yang namanya perubahan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya itu, maka manusia selalu berupaya untuk memperbaiki kehidupan dan meningkatkan status sosialnya. Untuk meningkatkan status sosialnya itulah, cara yang dilakukan salah satunya dengan melakukan mobilitas sosial. Dalam kehidupan sosial, setiap masyarakat pasti terlibat dengan mobilitas sosial. Biasanya, mobilitas sosial ini digambarkan sebagai suatu perpindahan atau pergerakan yang mampu membawa sebuah perubahan yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan di masyarakat. Mobilitas sosial merupakan fenomena yang kerap terjadi di kehidupan sosial, makanya tidak hanya terjadi pada individu atau sekelompok orang saja, tetapi semua orang pasti mengalami mobilitas sosial dalam hidupnya tanpa ia sadari. Tapi, apa sebetulnya mobilitas sosial? Grameds pasti sudah tahu kalau mobilitas itu berarti berpindah, bagaimana dengan mobilitas sosial, serta bagaimana juga bentuk mobilitas sosial? Yuk simak ulasan berikut, supaya kamu bisa lebih memahami hal tersebut. Pengertian Mobilitas Sosial1. Soerjono Soekanto2. Robert MZ Lawang3. Horton dan Hunt4. Kimball Young dan Reymond Pitrim A. SorokinBentuk Mobilitas Sosial1. Bentuk Mobilitas Sosial Vertikala. Gerak mobilitas sosial ke bawah Social sinkingb. Gerak mobilitas sosial ke atas Social climbing2. Bentuk Mobilitas Sosial Horizontal3. Bentuk Mobilitas Antargenerasi1. Mobilitas integrasi2. Mobilitas intragenerasiFaktor Pendorong Mobilitas Sosial1. Faktor individu2. Faktor struktural3. Faktor politik4. Faktor demografi/kependudukan5. Faktor ekonomiFaktor Penghambat Mobilitas Sosial1. Faktor kemiskinan2. Faktor diskriminasi3. Faktor stereotip genderDampak Mobilitas Sosial1. Dampak positif mobilitas sosial2. Dampak negatif mobilitas sosial Pengertian Mobilitas Sosial Secara umum, mobilitas sosial adalah sebuah bentuk perubahan kedudukan masyarakat yang ada di dalam sebuah kelas sosial satu ke kelas sosial lainnya. Pengertian mobilitas sosial berarti sebuah perpindahan individu maupun kelompok melalui sistem hierarki atau stratifikasi sosial. Dalam KBBI, mobilitas sosial diartikan sebagai perubahan kedudukan warga masyarakat kelas sosial yang satu ke kelas sosial yang lain. Berikut ini beberapa definisi Mobilitas Sosial Menurut Ahli. 1. Soerjono Soekanto Mobilitas sosial menurut Soerjono Soekanto adalah pergerakan dari satu posisi sosial ke posisi sosial lainnya. 2. Robert MZ Lawang Mobilitas sosial diartikan sebagai perpindahan posisi seseorang atau kelompok dari lapisan dan dimensinya secara berjenjang. 3. Horton dan Hunt Mobilitas sosial merupakan suatu gerak perpindahan dari suatu kelas sosial ke kelas sosial lainnya. 4. Kimball Young dan Reymond Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial tertentu yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial 5. Pitrim A. Sorokin Pengertian mobilitas sosial dapat dilakukan melalui beberapa saluran yang disebut dengan sirkulasi sosial atau social circulation. Sirkulasi sosial ini dapat berupa Lembaga Pendidikan, Lembaga kesehatan, organisasi politik, dan lainnya. Dengan demikian, jika berbicara tentang mobilitas sosial, maka yang dimaksud adalah bentuk perpindahan status dan peranan seseorang atau kelompok orang dari kelas sosial yang lebih rendah ke kelas sosial yang lebih tinggi, atau dari kelas sosial yang tinggi ke kelas sosial yang lebih rendah vertical atau perpindahan kelas sosial dengan derajat yang searah atau horizontal. Mobilitas terbagi menjadi beberapa bentuk. Pembagian bentuk mobilitas sosial ini berdasarkan pada pengaruh tidaknya hasil dari perpindahan status sosial yang dialami dengan derajat sosial yang dimiliki. Bentuk mobilitas sosial pada dasarnya terbagi menjadi tiga,yaitu mobilitas sosial vertikal, mobilitas sosial horizontal, dan mobilitas sosial antargenerasi. Yuk, simak perjelasannya satu per satu. 1. Bentuk Mobilitas Sosial Vertikal Bentuk mobilitas sosial vertikal maksudnya ialah perpindahan individu atau objek sosial dari kedudukan sosial yang satu ke kedudukan sosial lainnya dalam posisi yang tidak sederajat. Coba kamu bayangkan, kamu berada di bagian tengah sebuah garis vertikal. Ketika kamu berada di posisi itu, kamu memiliki kesempatan untuk naik ke atas atau turun ke bawah, kan? Nah, begitu juga mobilitas vertikal yang dibedakan menjadi dua macam, yaitu mobilitas sosial vertikal ke atas dan mobilitas sosial vertikal ke bawah. a. Gerak mobilitas sosial ke bawah Social sinking Adanya proses penurunan status atau kedudukan sosial seseorang dari atas ke bawah. Alasan terjadinya social sinking tidak hanya terjadi karena pemecatan, kesalahan kerja, penyalahgunaan jabatan maupun hal buruk saja. Akan tetapi, social sinking juga bisa terjadi karena adanya masa pensiun jabatan, mengalami sakit yang menahun, berhalangan melaksanakan sebuah tugas. Contoh gerakan mobilitas sosial ke bawah, yaitu diberhentikan dari pekerjaan karena terbukti korupsi, bisa juga seorang kapten sepak bola berubah menjadi pemain sepak bola biasa, atau seorang staf pemerintahan yang resmi pensiun dari sebuah institusi pemerintahan dan kini ia menghabiskan waktu untuk mengasuh cucu-cucunya. b. Gerak mobilitas sosial ke atas Social climbing Mobilitas sosial vertikal ke atas ini ditandai dengan adanya kenaikan status sosial seseorang ke kedudukan yang lebih tinggi atau terbentuknya sebuah kelompok baru yang lebih tinggi dari lapisan sosial yang sudah ada sebelumnya. Gerakan ini memungkinkan individu mengalami kenaikan status yang tidak sederajat dengan statusnya yang sebelumnya, sehingga akan ada banyak hal yang harus disesuaikan dengan kehidupan sebelumnya. Biasanya, individu yang mengalami social climbing memiliki kinerja yang baik. Contohnya guru yang diangkat menjadi kepala sekolah, karyawan biasa yang diangkat menjadi manajer, seorang warga yang diangkat jadi ketua RT. 2. Bentuk Mobilitas Sosial Horizontal Bentuk mobilitas sosial horizontal adalah peralihan atau perpindahan individu, dari kelompok sosial satu ke kelompok sosial lainnya dalam posisi yang sederajat. Kamu sekarang coba bayangkan kembali, jika kamu berada di tengah sebuah garis horizontal. Kalau kamu ada di sana, mau kamu berpindah ke kanan atau ke kiri, pasti kamu akan berada di satu tempat yang sejajar, kan? Nah, sama seperti halnya mobilitas horizontal ini. Biasanya, bentuk mobilitas sosial horizontal ini terjadi pada perpindahan kewarganegaraan, pindah lokasi penugasan yang tanpa mengubah jabatan. Nah, karena perpindahan yang terjadi pada mobilitas ini tidak mengubah strata atau derajat seseorang, maka tidak banyak terjadi perubahan dalam kehidupan sebelumnya. Meski begitu, individu yang mengalami mobilitas ini harus tetap melakukan sebuah penyesuaian serta adaptasi kembali di lingkungan barunya, meskipun pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan yang sama dengan yang biasa ia kerjakan. Contoh bentuk mobilitas sosial horizontal Misalnya, seseorang yang pada awalnya berkewarganegaraan Polandia, kemudian karena adanya suatu hal ia pindah menjadi warga negara lain melalui proses naturalisasi pewarganegaraan. Bentuk peralihan kewarganegaraan seperti ini merupakan proses peralihan kedudukan atau posisi seseorang yang sederajat, sehingga kejadian ini termasuk ke dalam bentuk mobilitas sosial horizontal. Seseorang yang beralih profesi dari pekerjaan di suatu biro jasa tertentu, misalnya biro jasa angkutan, kemudian ia beralih profesi menjadi pelaksana penjualan di suatu perusahaan, maka ini juga disebut dengan mobilitas sosial horizontal. Mahasiswa yang melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sehingga harus berpindah ke desa lainnya dalam geografis yang sama. Seorang kepala sekolah yang dipindahtugaskan menjadi kepala sekolah di luar kota. Perlu dicatat, bahwa yang terjadi adalah adanya pergeseran sosial seseorang atau sekelompok orang dalam pola-pola kedudukan yang sederajat. 3. Bentuk Mobilitas Antargenerasi Bentuk mobilitas sosial antargenerasi ditandai dengan adanya peningkatan atau perkembangan taraf hidup dalam suatu garis keturunan yang tidak hanya menunjuk pada kedudukan status sosialnya saja, dari status generasi ke generasi berikutnya. Bentuk mobilitas antargenerasi juga bisa dipahami sebagai perbedaan status yang telah dicapai seseorang yang sudah memiliki keluarga sendiri, dibandingkan dengan status sosial yang dimiliki oleh orang tuanya. Contoh bentuk mobilitas antargenerasi adalah, seseorang yang memiliki kondisi ekonomi yang pas-pasan, setelah dewasa, ia berhasil mendirikan sebuah usaha yang sukses. Karena kesuksesan anak tersebut, maka terjadilah perubahan status social antara orangtuanya dan dirinya sendiri yang bersifat antargenerasi. Selanjutnya, bentuk mobilitas antargenerasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu 1. Mobilitas integrasi Mobilitas integrasi merupakan peralihan status sosial yang terjadi di antara beberapa generasi. Deskripsi dari mobilitas integrasi ini bisa dilihat dari status sosial antara generasi kakek, ayah, dan anak adalah berbeda. Misalnya dalam satu keluarga, kakeknya berprofesi atau bekerja sebagai dokter, sedangkan anaknya bekerja sebagai guru, sedangkan cucunya bekerja sebagai dosen. Atau bisa juga neneknya bekerja sebagai karyawan negeri, lalu anaknya bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedangkan cucunya bekerja sebagai seorang pengusaha yang sukses. 2. Mobilitas intragenerasi Mobilitas intragenerasi merupakan peralihan status sosial yang terjadi dalam satu generasi yang sama, mulai dari ayah, ibu, sampai anaknya. Misalnya, dalam satu keluarga, sang ayah bekerja sebagai karyawan swasta, anaknya bekerja sebagai seorang guru. Atau bisa juga, seorang ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga saja, sedangkan anaknya bekerja sebagai dokter. Faktor Pendorong Mobilitas Sosial Setelah kamu mengetahui definisi dari mobilitas sosial, serta bentuk mobilitas sosial, tentu terdapat faktor pendorong yang bisa menyebabkan terjadinya mobilitas sosial. Berikut beberapa faktor pendorong mobilitas sosial. 1. Faktor individu Mobilitas sosial bisa disebabkan karena adanya faktor individu. Faktor individu ini bisa dilihat dari segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan, karena pada dasarnya manusia lahir memiliki sifat dan ciri khasnya masing-masing. Meski begitu, manusia mempunyai keinginan yang sama untuk mencapai suatu status sosial yang lebih tinggi. Di Indonesia sendiri, faktor pendidikan dianggap sebagai social elevator atau sarana yang bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang lebih berkualitas dan juga mampu meningkatkan status sosialnya di masyarakat. 2. Faktor struktural Faktor struktural berkaitan dengan kesempatan seseorang untuk bisa menempati sebuah kedudukan serta kemudahan untuk ia memperolehnya. Di Indonesia, kesempatan untuk menempati suatu posisi dengan faktor struktural ini sangat besar. Banyak orang yang memiliki kesempatan untuk menempati jabatan yang lebih tinggi. 3. Faktor politik Faktor pendorong lainnya, yaitu faktor politik. Faktor politik bisa menjadi pemicu mobilitas sosial karena adanya situasi politik pada suatu negara yang stabil atau tidak akan mempengaruhi kondisi keamanannya. Biasanya, seseorang meninggalkan wilayah yang ia tinggali tersebut demi memperoleh jaminan keamanan. 4. Faktor demografi/kependudukan Berdasarkan pada data Badan Pusat Statistik BPS jumlah penduduk di Indonesia hampir selalu mengalami pertambahan dari waktu ke waktu. Faktor ini mengacu pada bertambahnya jumlah serta kepadatan penduduk dalam suatu wilayah tertentu. Pertambahan itu berdampak pada sempitnya lahan pemukiman, berkurangnya lapangan pekerjaan, serta kualitas lingkungan yang menjadi buruk. Masalah itulah yang bisa memicu seseorang untuk melakukan migrasi ke wilayah yang dirasa lebih baik oleh mereka. 5. Faktor ekonomi Kondisi ekonomi menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya mobilitas sosial. kondisi ekonomi yang baik akan membuat masyarakat mudah dalam memperoleh modal, pendidikan, serta kesempatan yang lebih baik lainnya. Akan tetapi, kalau kondisi ekonomi di suatu negara buruk, maka masyarakat di dalamnya akan memiliki pendapatan yang rendah atau terbatas, sehingga mereka sulit untuk memenuhi seluruh kebutuhan dan mobilitas sosialnya pun tidak akan bisa terjadi. Faktor Penghambat Mobilitas Sosial Dalam mendorong terjadinya mobilitas sosial, tidak hanya faktor pendorong saja yang terjadi, tetapi ada juga faktor yang bisa menghambat, yang bisa menyebabkan beberapa dampak terjadi. Saat faktor penghambat muncul, maka akan sulit bagi masyarakat untuk bisa melakukan mobilitas sosial dengan baik. 1. Faktor kemiskinan Masyarakat yang mengalami kemiskinan, bahkan merasa kesulitan dalam mencari penghasilan juga otomatis akan sulit untuk bisa mencapai status tertentu. Biasanya, penyebab terjadinya faktor kemiskinan adalah adanya tingkat pendidikan yang rendah. Saat tingkat pendidikan di suatu lingkungan masyarakat rendah, maka sumber daya manusia di tempat itu juga rendah. Sehingga tidak ada lagi upaya yang bisa mereka lakukan untuk mendapatkan atau memiliki kemampuan untuk bisa bersaing dan akhirnya mereka akan terbatas dalam mendapatkan pekerjaan. 2. Faktor diskriminasi Faktor ini terkadang sering diabaikan, namun nyatanya mobilitas sosial bisa sangat terhambat ketika adanya diskriminasi. Faktor diskriminasi ini adalah sikap yang membedakan perlakuan terhadap sesama karena adanya perbedaan, yaitu suku, agama, ras, dan golongan. Biasanya, faktor yang membedakan ini sangatlah berdampak besar dan bisa mengakibatkan konflik yang kemudian bisa menghambat terjadinya mobilitas sosial. 3. Faktor stereotip gender Faktor ini adalah faktor yang membeda-bedakan jenis kelamin atau posisi sosial antara laki-laki dengan perempuan. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa derajat laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan derajat perempuan. Hal ini yang bisa menghambat terjadinya mobilitas sosial. Membeda-bedakan gender juga akan menghalangi seseorang untuk mampu berprestasi, karena stereotip status sosial yang dinilai berbeda, maka menghalangi seseorang untuk melakukan upaya dan melakukan mobilitas sosial agar bisa mendapat status sosial yang lebih baik. Dampak Mobilitas Sosial Terjadinya mobilitas sosial tentunya memiliki dampak bagi masyarakat secara luas. Ada dua dampak yang bisa saja terjadi, yaitu dampak positif dan dampak negatif. 1. Dampak positif mobilitas sosial Dampak positif dari terjadinya mobilitas sosial adalah dampak yang menguntungkan serta memberi manfaat bagi orang yang melakukan mobilitas sosial. dampak positif ini mampu mendorong seseorang untuk berkembang menjadi lebih baik. Beberapa dampak positif dari mobilitas sosial adalah meningkatkan integrasi sosial seseorang atau suatu masyarakat. Terjadinya perubahan sosial tentunya memiliki respon yang berbeda-beda, ada yang menanggapinya sebagai sebuah tantangan, ada pula yang menanggapinya sebagai bentuk penerimaan yang akhirnya berpengaruh pada integritas di masyarakat. 2. Dampak negatif mobilitas sosial Tak bisa dipungkiri kalau mobilitas sosial pasti memiliki dampak negatifnya. Salah satunya timbul konflik-konflik sosial. konflik sosial ini bisa saja terjadi karena persaingan antar individu ataupun kelompok untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi yang berujung pada konflik. Dampak lainnya adakah resiko terjadinya gangguan psikologis. Tidak sedikit orang yang mengalami kegelisahan saat kehilangan jabatannya dan menyebabkan terjadinya gangguan psikologis. Bahkan bisa juga mebahayakan dirinya sendiri jika menjadi stres yang berkepanjangan. Nah, itulah penjelasan mengenai bentuk mobilitas sosial dan hal terkait mobilitas sosial lainnya. Grameds bisa membaca buku-buku sosiologi agar bisa lebih memahami tentang mobilitas sosial. Sebagai SahabatTanpaBatas Gramedia selalu memberikan produk terbaik agar Grameds bisa mmeiliki informasi LebihDenganMembaca. Penulis Nurul Ismi Humairoh BACA JUGA Pengertian Mobilitas Sosial Teori, Bentuk, Faktor Pengaruh Social Sinking Pengertian, Dampak Psikologis, dan Contoh Struktur Sosial di Masyarakat Klasifikasi, Jenis, Fungsi, & Unsur Ciri-Ciri, Unsur, dan Bentuk Struktur Sosial Pengertian dan Contoh Manusia Sebagai Makhluk Sosial Pengertian Dinamika Kelompok Sosial, Faktor, dan Aspeknya ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah." Custom log Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda Tersedia dalam platform Android dan IOS Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis Laporan statistik lengkap Aplikasi aman, praktis, dan efisien Menyajikan informasi terkini, terbaru dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle dan masih banyak dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparanIlustrasi mobilitas sosial. Foto freepikMobilitas sosial adalah perpindahan status sosial seseorang atau kelompok dalam tatanan kehidupan masyarakat. Hal ini biasanya ditandai dengan perubahan baik dari segi perilaku atau interaksi seseorang, secara pibadi maupun dari mobilitas sosial misalnya seorang pelajar SMA setelah lulus kemudian belajar ke universitas atau seorang pengangguran yang akhirnya mendapatkan pekerjaan. Bisa juga seorang Gubernur yang kemudian menjadi mobilitas sosial ini tentu memberikan dampak bagi masyarakat baik positif maupun negatif. Agar lebih memahaminya, simak uraian berikut. Dampak PositifBerikut dampak positif dari mobilitas sosialMeningkatkan integrasi sosial. Mobilitas sosial yang terjadi di masyarakat menyebabkan perubahan keadaan sosial, baik dari gaya hidup maupun pola tingkat perubahan sosial. Perubahan tingkat sosial yang terjadi ke arah yang lebih baik akan mempengaruhi pola pikir, gaya hidup serta mata pencehariannya menjadi lebih baik pula. Mendorong seseorang untuk lebih maju. Melihat orang lain yang melakukan mobilitas sosial, kita akan terdorong untuk lebih maju dengan meningkatkan kemampuan agar dapat bersaing dengan orang kesejahteraan hidup. Perubahan tingkat sosial yang terjadi ke arah yang lebih baik perlahan akan meningkatkan kesejahteraan hidup mobilitas sosial. Foto freepikDampak Negatif Mobilitas SosialTerjadinya konflik. Ketegangan dapat timbul akibat adanya penolakan terhadap mobilitas sosial yang terjadi pada orang psikologis. Kondisi ini terjadi karena ketakutan dan kecemasan akibat melihat mobilitas sosial orang lain secara berlarut-larut. Munculnya keretakan dalam suatu hubungan. Hubungan yang baik akan retak jika diiringi perasaan iri atau sombong. Mobilitas sosial bisa menjadi ajang pamer atas prestasi yang telah diraih seseorang sehingga menyebabkan orang lain merasa iri.

bagaimanakah bentuk konsekuensi mobilitas sosial dalam kehidupan masyarakat